Anak GTM Padahal Lapar? Kenali 7 Penyebab dan Solusinya

“Anaknya kelihatan lapar, tapi begitu makanan datang malah tutup mulut.”

Pernah mengalami situasi seperti ini, Parents?

Si Kecil mulai rewel, mencari makanan, atau terlihat ingin makan. Namun, begitu duduk di kursi makan dan disuapi, justru memalingkan wajah, mengatupkan mulut, mendorong sendok, bahkan menangis.

Situasi ini sering disebut GTM atau Gerakan Tutup Mulut.

Banyak orang tua menganggap GTM sebagai fase anak yang sedang pilih-pilih makanan. Padahal, tidak semua anak yang menolak makan melakukannya karena tidak suka makanan yang diberikan.

Terkadang, anak sebenarnya merasa lapar, tetapi ada sesuatu yang membuat proses makan menjadi sulit atau tidak nyaman.

Mulai dari masalah tekstur makanan, pengalaman makan yang kurang menyenangkan, hingga kondisi medis tertentu, semuanya dapat memengaruhi respons anak terhadap makanan.

Lantas, kenapa anak GTM padahal lapar?

Apa Itu GTM pada Anak?

GTM atau Gerakan Tutup Mulut adalah istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan perilaku anak ketika menolak makanan.

Penolakan ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, seperti mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menepis sendok, mengeluarkan makanan dari mulut, atau menangis ketika waktu makan tiba.

GTM sendiri bukan diagnosis medis.

Perilaku menolak makan bisa menjadi bagian dari perkembangan anak, terutama ketika toddler mulai menunjukkan preferensi dan kemandirian. Namun, penolakan makan juga dapat berkaitan dengan masalah keterampilan makan, sensitivitas sensorik, pengalaman makan, atau kondisi kesehatan tertentu.

Karena itu, penting untuk memperhatikan bukan hanya seberapa banyak makanan yang berhasil dimakan, tetapi juga bagaimana anak merespons makanan dan apa yang terjadi selama proses makan.

7 Penyebab Anak GTM Padahal Lapar

1. Anak Merasa Tidak Nyaman dengan Tekstur Makanan

Pernah memperhatikan anak yang mau makan bubur halus, tetapi langsung menolak ketika diberikan nasi atau makanan dengan tekstur lebih kasar?

Bisa jadi masalahnya bukan pada rasa, melainkan pada tekstur makanan.

Beberapa anak lebih sensitif terhadap sensasi tertentu di dalam mulut. Makanan yang terlalu lembek, lengket, berserat, atau memiliki tekstur campuran dapat terasa tidak nyaman bagi mereka.

Responsnya bisa berupa menolak membuka mulut, muntah atau tersedak karena refleks gag yang sensitif, mengeluarkan makanan, atau hanya mau mengonsumsi makanan dengan tekstur tertentu.

Sensitivitas terhadap tekstur dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan makan anak. Namun, sensitivitas ini perlu dibedakan dari kesulitan mengunyah atau menelan.

Yang bisa Parents lakukan: perkenalkan tekstur secara bertahap tanpa memaksa anak menelannya. Jika penolakan tekstur berlangsung terus-menerus atau anak sulit beralih ke tekstur sesuai usianya, pertimbangkan evaluasi feeding skills.

2. Anak Mengalami Kesulitan Mengunyah atau Mengelola Makanan di Mulut

Anak yang lapar belum tentu sudah memiliki kemampuan oral-motor yang memadai untuk mengonsumsi semua jenis makanan.

Oral-motor skills adalah kemampuan koordinasi otot mulut, rahang, lidah, dan bibir yang dibutuhkan untuk mengolah makanan.

Ketika kemampuan ini belum berkembang sesuai kebutuhan makan anak, proses makan dapat terasa melelahkan atau sulit.

Beberapa tanda yang mungkin terlihat adalah anak membutuhkan waktu sangat lama untuk mengunyah, menyimpan makanan di pipi (food pocketing), sering mengeluarkan makanan yang sulit dikunyah, atau lebih memilih makanan yang mudah ditelan.

Pada kondisi tertentu, kesulitan makan juga dapat melibatkan gangguan koordinasi menelan.

Jika anak sering batuk, tersedak, atau mengalami perubahan suara dan napas saat makan, kondisi tersebut perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Kesulitan bernapas saat makan membutuhkan pertolongan segera.

3. Anak Punya Pengalaman Makan yang Tidak Menyenangkan

Tidak semua GTM berawal dari makanan itu sendiri.

Kadang, anak mulai mengasosiasikan waktu makan dengan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman.

Misalnya, pernah dipaksa menghabiskan makanan, disuapi ketika menangis, mengalami muntah atau tersedak, atau berulang kali merasa tertekan ketika makan.

Akibatnya, anak bisa mulai menunjukkan penolakan bahkan sebelum makanan masuk ke mulut.

Ketika melihat sendok mendekat, anak mungkin langsung mengatupkan mulut, menangis, atau mencoba meninggalkan kursi makan.

Hal ini tidak berarti orang tua sengaja menyebabkan masalah makan. Namun, pola interaksi selama makan memang dapat memengaruhi bagaimana anak merespons makanan.

Yang bisa Parents lakukan: bangun kembali pengalaman makan yang positif. Hindari memaksa, mengancam, atau mengejar anak dengan sendok. Berikan kesempatan bagi anak untuk mengenali makanan sesuai kenyamanannya.

4. Anak Mengalami Konstipasi atau Ketidaknyamanan Pencernaan

Anak mungkin menunjukkan tanda lapar, tetapi tetap menolak makan karena perut terasa tidak nyaman.

Salah satu kondisi yang perlu dipertimbangkan adalah konstipasi atau sembelit.

Konstipasi dapat menyebabkan perut terasa penuh, kembung, atau nyeri sehingga anak menjadi kurang tertarik makan.

Selain konstipasi, keluhan lain seperti refluks, mual, atau nyeri saat makan juga dapat memengaruhi perilaku makan.

Parents dapat memperhatikan apakah GTM disertai sulit BAB, feses keras, nyeri perut, muntah berulang, atau perubahan pola BAB.

Jika keluhan menetap, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak agar penyebabnya dapat dievaluasi.

5. Jadwal Makan dan Snack Membuat Anak Tidak Cukup Lapar

Anak terlihat lapar belum tentu memiliki tingkat rasa lapar yang sama setiap kali waktu makan tiba.

Misalnya, ketika anak terlalu sering mengonsumsi susu, jus, atau snack menjelang makan utama, rasa laparnya dapat berkurang.

Akibatnya, anak mungkin hanya makan beberapa suap sebelum menolak makanan berikutnya.

Pada toddler, rutinitas makan yang teratur dapat membantu membangun pola lapar dan kenyang yang lebih konsisten.

Parents dapat mencoba memberikan jadwal makan utama dan snack yang terstruktur, menyediakan air putih di antara waktu makan sesuai kebutuhan, serta menghindari kebiasaan makan atau minum berkalori terus-menerus sepanjang hari.

Namun, jangan sengaja membuat anak kelaparan agar mau makan. Tujuannya adalah membangun ritme makan yang sehat, bukan memaksa anak menghabiskan makanan.

6. Anak Terlalu Lelah, Terdistraksi, atau Sulit Mengatur Emosi

Terkadang, penyebab GTM justru berkaitan dengan kondisi anak saat waktu makan berlangsung.

Anak yang terlalu mengantuk, kelelahan, atau sedang mengalami overstimulation dapat lebih sulit duduk tenang dan mengikuti aktivitas makan.

Begitu pula ketika lingkungan makan terlalu ramai atau penuh distraksi.

Pada sebagian anak, transisi dari bermain ke waktu makan juga membutuhkan waktu.

Karena itu, Parents dapat mencoba menciptakan rutinitas sebelum makan, memilih waktu ketika anak cukup segar, dan menyediakan lingkungan makan yang tenang.

Perhatikan juga posisi duduk anak. Posisi yang stabil dan sesuai ukuran tubuh dapat membantu anak lebih nyaman saat makan.

7. Anak Mengalami Feeding Difficulties yang Membutuhkan Evaluasi

Jika anak terus-menerus menolak makanan, hanya menerima sangat sedikit jenis makanan, atau tampak sangat tertekan saat makan, ada kemungkinan kesulitan tersebut lebih kompleks daripada fase picky eating biasa.

Dalam beberapa kasus, kesulitan makan dapat melibatkan kombinasi faktor:

  • Medical: kondisi kesehatan yang menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan saat makan.

  • Nutritional: asupan nutrisi yang tidak mencukupi atau kurang bervariasi.

  • Feeding skills: kesulitan mengunyah, mengelola makanan, atau menelan.

  • Psychosocial: stres, ketakutan, atau pola interaksi yang memengaruhi pengalaman makan.

Keempat domain tersebut digunakan dalam kerangka Pediatric Feeding Disorder (PFD), yaitu gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia dan berkaitan dengan disfungsi pada satu atau lebih domain tersebut.

Namun, tidak semua anak GTM mengalami Pediatric Feeding Disorder. Diagnosis membutuhkan evaluasi profesional.


Cara Mengatasi Anak GTM Tanpa Memaksa Makan

Setelah mengetahui kemungkinan penyebabnya, langkah berikutnya adalah membantu anak membangun pengalaman makan yang lebih positif.

Tidak semua GTM membutuhkan penanganan yang sama. Namun, beberapa pendekatan berikut dapat dicoba di rumah.

1. Buat Jadwal Makan yang Konsisten

Berikan waktu makan utama dan snack secara teratur. Hindari menawarkan makanan atau minuman berkalori terus-menerus sehingga anak memiliki kesempatan mengenali rasa lapar dan kenyang.

2. Hindari Memaksa Anak Menghabiskan Makanan

Parents dapat menentukan makanan apa yang disediakan, kapan waktu makan, dan di mana anak makan. Sementara itu, berikan ruang bagi anak untuk merespons rasa lapar dan kenyangnya.

Hindari menjadikan makanan sebagai ancaman atau hukuman.

3. Kenalkan Makanan Baru Secara Bertahap

Jangan langsung menyerah ketika anak menolak makanan baru.

CDC menjelaskan bahwa anak mungkin membutuhkan paparan berulang sebelum bersedia mencoba atau menerima makanan tertentu. Parents dapat menyajikan makanan baru bersama makanan yang sudah familiar, memberi pilihan, dan menunjukkan contoh dengan ikut memakannya.

4. Perhatikan Respons Anak terhadap Tekstur

Amati apakah penolakan hanya terjadi pada makanan tertentu, terutama makanan yang membutuhkan kemampuan mengunyah lebih kompleks.

Jika anak sering tersedak, batuk saat makan, atau kesulitan mengelola makanan di mulut, jangan memaksakan peningkatan tekstur sebelum mendapatkan evaluasi yang sesuai.

5. Jadikan Waktu Makan sebagai Pengalaman yang Positif

Usahakan makan bersama dalam suasana yang tenang. Beri anak kesempatan untuk mengeksplorasi makanan tanpa tekanan untuk langsung menghabiskannya.

Yang terpenting, tujuan makan bukan hanya membuat piring kosong, tetapi membantu anak mengembangkan kemampuan dan hubungan yang sehat dengan makanan.

Kapan GTM Anak Perlu Feeding Assessment?

GTM yang berlangsung sesekali tidak selalu menjadi tanda masalah serius.

Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak hanya ditunggu, terutama ketika anak:

  • terus-menerus menolak sebagian besar makanan,

  • hanya mau menerima jenis atau tekstur makanan yang sangat terbatas,

  • sering menangis atau tampak tertekan setiap waktu makan,

  • kesulitan mengunyah atau menyimpan makanan di dalam mulut,

  • sering batuk, tersedak, atau muntah saat makan,

  • membutuhkan waktu sangat lama untuk menyelesaikan makanan,

  • mengalami penurunan berat badan atau pertumbuhan yang tidak sesuai harapan.

Jika anak menunjukkan tanda dehidrasi, kesulitan bernapas, atau tidak mampu menelan dengan aman, segera cari pertolongan medis.

Apa yang Dilakukan Saat Feeding Assessment?

Feeding Assessment bertujuan memahami mengapa anak mengalami kesulitan makan, bukan sekadar menilai apakah anak mau atau tidak mau disuapi.

Dalam assessment, terapis yang memiliki kompetensi di bidang feeding dapat mengevaluasi beberapa aspek, seperti:

Oral-motor skills: kemampuan bibir, lidah, rahang, dan koordinasi gerakan mulut saat makan.

Sensory responses: bagaimana anak merespons tekstur, rasa, dan karakteristik makanan.

Feeding behavior: respons anak terhadap makanan, termasuk penolakan, ketakutan, atau ketidaknyamanan.

Mealtime interaction: pola interaksi antara anak dan caregiver selama makan.

Feeding development: apakah keterampilan makan anak berkembang sesuai tahapan usianya.

Evaluasi juga dapat mencakup riwayat kesehatan, nutrisi, pertumbuhan, dan kebutuhan rujukan ke dokter anak atau tenaga kesehatan lain. Pendekatan multidisiplin dianjurkan karena masalah makan dapat melibatkan lebih dari satu faktor.


Speech & Feeding Therapy di Caremore Children Clinic

Parents, anak yang menolak makan belum tentu hanya sedang pilih-pilih makanan.

Bisa jadi ada kesulitan yang belum mampu disampaikan oleh si Kecil, baik berkaitan dengan tekstur, kemampuan mengunyah, pengalaman makan, maupun kondisi kesehatan lainnya.

Di Caremore Children Clinic, tersedia layanan Speech & Feeding Therapy untuk membantu mengevaluasi dan mendukung perkembangan kemampuan makan serta komunikasi anak sesuai kebutuhannya.

Melalui Feeding Assessment, Parents dapat memahami faktor yang mungkin memengaruhi kesulitan makan si Kecil dan mendapatkan rekomendasi penanganan yang lebih terarah.

Karena setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, pendekatan yang tepat dimulai dengan memahami penyebabnya, bukan sekadar mencari cara agar anak mau membuka mulut.

Yuk, konsultasikan kesulitan makan si Kecil melalui Speech & Feeding Assessment di Caremore Children Clinic.

Referensi

  1. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Pediatric Feeding and Swallowing. Baca referensi

  2. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Early Identification of Speech, Language, Swallowing, and Hearing Disorders. Baca referensi

  3. American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). ASHA Encourages Families to Learn the Signs of Pediatric Feeding Disorder. 2023. Baca referensi

  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Tips to Help Your Picky Eater. 2026. Baca referensi

  5. Goday PS, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019;68(1):124–129. DOI

Previous
Previous

Olahraga Intens tapi Menstruasi Tidak Teratur? Kenali Hubungannya dengan Asupan Nutrisi

Next
Next

Late Talker atau Speech Delay? Kenali Perbedaannya pada Perkembangan Bicara Anak