Late Talker atau Speech Delay? Kenali Perbedaannya pada Perkembangan Bicara Anak
Anak Belum Banyak Bicara, Late Talker atau Speech Delay?
“Anakku sudah 2 tahun, tapi kok bicaranya masih lebih sedikit dibanding anak seusianya?”
Pertanyaan seperti ini cukup sering membuat parents khawatir.
Apalagi ketika melihat anak lain dengan usia yang sama sudah mulai menggabungkan kata, bercerita, atau lebih aktif mengajak bicara.
Namun, perkembangan komunikasi anak tidak hanya dinilai dari berapa banyak kata yang sudah bisa diucapkan.
Ada anak yang mengalami keterlambatan pada kemampuan mengekspresikan bahasa, ada yang mengalami kesulitan memahami bahasa, dan ada pula yang sudah memiliki banyak kosakata tetapi pengucapannya masih sulit dipahami.
Karena itu, istilah seperti late talker, speech delay, dan language delay sebenarnya tidak selalu bisa digunakan bergantian.
Apa Itu Late Talker?
Dalam konteks klinis, istilah late talker sering digunakan untuk anak dengan late language emergence atau LLE.
ASHA mendefinisikannya sebagai keterlambatan munculnya bahasa pada anak usia sekitar 2–4 tahun tanpa adanya diagnosis keterlambatan atau disabilitas lain pada area perkembangan kognitif maupun motorik.
Salah satu kriteria yang banyak digunakan dalam penelitian adalah:
kurang dari 50 kata dan belum menggabungkan dua kata pada usia 24 bulan.
Namun, angka tersebut bukan satu-satunya dasar untuk menentukan kondisi seorang anak. Perkembangan kosakata, kemampuan memahami bahasa, gesture, kemampuan bermain, komunikasi sosial, hingga perkembangan bunyi bicara juga perlu diperhatikan.
Jadi late talker bukan sekadar:
“Anaknya memang belum mau ngomong.”
Perkembangannya tetap perlu dipantau.
Bagaimana Gambaran Late Talker?
Pada anak dengan late language emergence yang terutama melibatkan kemampuan ekspresif, parents mungkin melihat anak:
berbicara lebih sedikit dibanding anak seusianya,
memiliki jumlah kosakata yang masih terbatas,
belum banyak menggabungkan kata,
menggunakan kalimat yang masih sangat sederhana, tetapi
pemahaman terhadap bahasa dapat relatif lebih baik daripada kemampuan berbicaranya.
Misalnya, anak mungkin belum banyak berbicara tetapi sudah dapat memahami instruksi sederhana, mengenali benda yang disebutkan, atau menggunakan gesture untuk berkomunikasi.
Namun profil setiap anak bisa berbeda.
ASHA membedakan anak yang terutama memiliki expressive delay dengan anak yang mengalami keterlambatan pada expressive sekaligus receptive language. Kelompok kedua cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan bahasa yang berlanjut.
Lalu, Apa yang Dimaksud Speech Delay?
Di sinilah istilahnya sering membingungkan.
Speech dan language sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda.
Speech berkaitan dengan bagaimana anak menghasilkan bunyi dan mengucapkan kata.
Sementara language mencakup bagaimana anak memahami dan menggunakan kata atau kalimat untuk berkomunikasi.
Artinya, seorang anak bisa saja:
tahu banyak kata dan tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi pengucapannya sulit dipahami.
Sebaliknya, ada juga anak yang pengucapan kata-katanya cukup jelas, tetapi jumlah kata atau struktur kalimatnya masih tertinggal dibandingkan perkembangan yang diharapkan.
Karena itu, sekadar mengatakan “speech delay” belum menjelaskan bagian komunikasi mana yang sebenarnya mengalami kesulitan.
Bagaimana Jika Anak Banyak Bicara tetapi Ucapannya Tidak Jelas?
Ini juga perlu diperhatikan.
Parents terkadang merasa:
“Sebenarnya dia cerewet banget, cuma ngomongnya belum jelas.”
Kondisi seperti ini tidak otomatis berarti anak memiliki late language emergence.
Jika kosakata dan kemampuan membentuk kalimat sudah berkembang tetapi banyak ucapan sulit dipahami, profesional dapat mengevaluasi speech sound development, termasuk bagaimana anak memproduksi konsonan, vokal, suku kata, dan pola bunyi dalam kata.
Pada usia 2 tahun, kemampuan bicara memang belum harus sesempurna orang dewasa. American Academy of Pediatrics mencatat bahwa pada usia sekitar 2 tahun, sebagian besar toddler sudah memiliki sekitar 50–100 kata, mulai menggunakan beberapa kombinasi dua kata, dan ucapan mereka dapat dipahami orang dewasa sekitar separuh waktu. Milestone tetap merupakan panduan, bukan alat diagnosis.
Late Talker vs Kemungkinan Gangguan Speech/Language
“Nanti Juga Ngomong Sendiri.” Apakah Late Talker Bisa Catch Up?
Sebagian memang bisa.
ASHA melaporkan sekitar 50–70% anak dengan late language emergence pada studi longitudinal dapat mengejar perkembangan teman sebayanya hingga usia preschool akhir atau usia sekolah.
Tetapi masalahnya adalah kita tidak selalu bisa mengetahui sejak awal anak mana yang akan catch up dan anak mana yang akan terus mengalami kesulitan.
Kemampuan memahami bahasa menjadi salah satu faktor penting. Meta-analysis terhadap 20 sampel dengan total 2.134 anak menemukan bahwa receptive language dan expressive vocabulary termasuk prediktor signifikan terhadap perkembangan bahasa ekspresif anak late talker berikutnya.
Jadi daripada hanya menunggu, perkembangan anak sebaiknya dipantau secara aktif.
Jangan Hanya Menghitung Jumlah Kata Anak
Ketika mengevaluasi perkembangan bicara dan bahasa, assessment tidak hanya bertanya:
“Sudah bisa berapa kata?”
Profesional dapat melihat berbagai area komunikasi, termasuk:
Expressive language
Bagaimana anak menggunakan kata dan kalimat untuk menyampaikan keinginan atau pikirannya.
Receptive language
Seberapa baik anak memahami kata, pertanyaan, dan instruksi.
Speech sound development
Bagaimana anak memproduksi berbagai bunyi bahasa dan seberapa mudah ucapannya dipahami.
Gesture dan komunikasi nonverbal
Misalnya menunjuk, menunjukkan benda, eye gaze, atau menggunakan gesture untuk menyampaikan kebutuhan.
Social communication
Bagaimana anak menggunakan komunikasi ketika berinteraksi dengan orang lain.
Play skills
Termasuk kemampuan symbolic atau pretend play.
Hearing
Gangguan pendengaran juga perlu dipertimbangkan ketika anak mengalami keterlambatan bahasa.
Inilah mengapa dua anak dengan jumlah kata yang sama belum tentu membutuhkan pendekatan yang sama.
Kapan Parents Sebaiknya Melakukan Assessment?
Tidak perlu menunggu sampai anak masuk sekolah untuk mulai mencari tahu.
Konsultasi atau assessment dapat dipertimbangkan jika parents melihat kemampuan komunikasi anak tidak berkembang seperti yang diharapkan, misalnya kosakata bertambah sangat lambat, anak belum mulai menggabungkan kata, sulit memahami instruksi sederhana, ucapan sangat sulit dipahami, atau parents memiliki kekhawatiran lain terhadap perkembangan komunikasi.
AAP menekankan bahwa bila parents memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan bahasa anak, evaluasi sebaiknya dilakukan lebih awal daripada hanya menunggu.
CDC juga mengingatkan bahwa developmental milestones digunakan untuk membantu monitoring perkembangan, tetapi bukan pengganti standardized developmental screening.
Assessment Bukan Berarti Anak Pasti Membutuhkan Terapi
Ini juga penting untuk parents ketahui.
Melakukan assessment bukan berarti anak otomatis didiagnosis mengalami gangguan atau langsung harus menjalani terapi jangka panjang.
Assessment membantu mengetahui:
“Sebenarnya bagian mana dari kemampuan komunikasi anak yang perlu kita perhatikan?”
Hasilnya bisa saja menunjukkan bahwa perkembangan cukup dipantau dengan stimulasi di rumah dan monitoring berkala.
Namun, jika ditemukan keterlambatan yang persisten atau terdapat kesulitan pada area perkembangan lain, intervensi yang lebih terarah dapat direkomendasikan.
Speech & Feeding Therapy di Caremore Children Clinic
Kalau Parents masih bingung apakah si Kecil hanya membutuhkan monitoring atau ada area speech dan language yang perlu mendapatkan perhatian lebih, assessment dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan anak secara lebih objektif.
Di Caremore Children Clinic, tersedia layanan Speech & Feeding Therapy untuk membantu mengevaluasi dan mendukung perkembangan komunikasi anak sesuai kebutuhannya.
Assessment dapat membantu melihat kemampuan expressive dan receptive language, speech sounds, komunikasi fungsional, hingga area perkembangan terkait, sehingga rekomendasi tidak hanya berdasarkan perbandingan dengan anak lain.
Karena setiap anak memang berkembang dengan kecepatannya masing-masing, tetapi kekhawatiran Parents juga tidak perlu diabaikan hanya dengan “ditunggu dulu”.
Book your Speech & Feeding Assessment at Caremore Children Clinic.
Referensi
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Late Language Emergence. ASHA: Late Language Emergence
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA). Spoken Language Disorders. ASHA: Spoken Language Disorders
American Academy of Pediatrics – HealthyChildren.org. Language Delays in Toddlers: Information for Parents. HealthyChildren: Language Delays in Toddlers
Centers for Disease Control and Prevention. Developmental Milestones. Updated 2026. CDC Developmental Milestones
Fisher EL. A Systematic Review and Meta-Analysis of Predictors of Expressive-Language Outcomes Among Late Talkers. Journal of Speech, Language, and Hearing Research. 2017;60(10):2935–2948.