HPV Positif Tapi Tidak Ada Lesi di Mulut Rahim? Ini yang Perlu Dilakukan
Mendapatkan hasil HPV positif sering kali langsung membuat khawatir.
Apalagi ketika dokter kemudian mengatakan bahwa saat pemeriksaan belum terlihat lesi atau perubahan abnormal pada mulut rahim.
Lalu pertanyaannya:
Kalau HPV sudah terdeteksi tetapi belum ada lesi, apakah tetap harus diobati?
Jawabannya tidak sesederhana “positif berarti harus langsung treatment”.
HPV atau Human Papillomavirus merupakan kelompok virus yang sangat umum. Sebagian tipe HPV dapat menginfeksi area genital, termasuk serviks. WHO menyebut bahwa sebagian besar infeksi HPV dapat dikontrol oleh tubuh dan menghilang secara spontan tanpa menimbulkan gejala. Namun, infeksi high-risk HPV yang menetap atau persisten dapat menyebabkan perubahan sel yang kemudian berkembang menjadi lesi prakanker dan, dalam jangka panjang pada sebagian kasus, kanker serviks.
Karena itu, ketika HPV terdeteksi, yang penting bukan hanya mengetahui hasilnya “positif”, tetapi juga mengetahui tipe HPV, kondisi sel serviks, serta menentukan follow-up yang tepat.
HPV Positif Tidak Sama dengan Kanker Serviks
Ini salah satu hal terpenting yang perlu dipahami.
HPV positif ≠ kanker serviks.
Bahkan HPV positif juga tidak otomatis berarti sudah terdapat lesi prakanker.
Infeksi HPV sering kali tidak memberikan gejala. CDC menyebut sekitar 9 dari 10 infeksi HPV dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu dua tahun tanpa menyebabkan masalah kesehatan.
Yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah ketika infeksi high-risk HPV bertahan dalam jangka panjang.
Infeksi persisten inilah yang dapat menyebabkan perubahan pada sel serviks dan dalam beberapa kasus berkembang menjadi precancer sebelum akhirnya menjadi kanker serviks.
Itulah mengapa screening dan follow-up tetap penting meskipun kamu merasa sehat dan tidak memiliki gejala.
Kenapa HPV Bisa Positif tetapi Tidak Ada Lesi?
Karena infeksi HPV dan perubahan sel akibat HPV merupakan dua hal yang berbeda.
HPV DNA testing dapat mendeteksi keberadaan tipe HPV tertentu, terutama high-risk HPV yang berhubungan dengan risiko kanker serviks.
Sementara itu, pemeriksaan serviks dan Pap Smear digunakan untuk melihat apakah sudah terdapat perubahan pada jaringan atau sel serviks.
Jadi seseorang dapat berada pada kondisi:
HPV terdeteksi → tetapi perubahan sel signifikan belum ditemukan.
Pada kondisi seperti ini, bukan berarti hasil HPV boleh diabaikan. Tetapi juga bukan berarti pasien otomatis membutuhkan prosedur untuk menghilangkan lesi yang sebenarnya belum ada.
Lalu, Apa yang Dilakukan Jika HPV Positif?
Tata laksana tidak hanya ditentukan berdasarkan satu hasil HPV positif.
Pedoman ASCCP menggunakan pendekatan berbasis risiko. Dokter dapat mempertimbangkan beberapa informasi seperti hasil HPV, genotipe HPV, hasil sitologi/Pap Smear, usia, hasil screening sebelumnya, dan riwayat kelainan serviks untuk menentukan langkah berikutnya.
Pada kondisi tertentu, langkah selanjutnya dapat berupa:
monitoring dan pemeriksaan ulang,
HPV genotyping,
Pap Smear atau pemeriksaan sitologi,
colposcopy,
biopsi bila terdapat indikasi, atau
treatment terhadap lesi apabila memang ditemukan perubahan prakanker.
Jadi, hasil HPV positif pada dua pasien yang berbeda belum tentu membutuhkan penanganan yang sama.
Bagaimana Jika HPV Positif tetapi Pap Smear Normal?
Ini juga mungkin terjadi.
Misalnya, seseorang dapat mendapatkan hasil high-risk HPV positif, tetapi pemeriksaan sitologi menunjukkan NILM (Negative for Intraepithelial Lesion or Malignancy) atau tidak ditemukan perubahan sel abnormal.
Dalam beberapa situasi, pedoman dapat merekomendasikan repeat HPV-based testing dalam periode tertentu atau HPV genotyping untuk menentukan langkah selanjutnya. HPV 16 dan HPV 18 mendapat perhatian khusus karena keduanya termasuk tipe high-risk yang memiliki hubungan kuat dengan kanker serviks.
Karena itu, jangan menentukan sendiri bahwa hasil tersebut “aman” ataupun “berbahaya”.
Interpretasinya perlu dilihat secara keseluruhan bersama dokter ObGyn.
Bagaimana dengan HPV Treatment Berbentuk Spray Gel?
Di Filmore Medical tersedia HPV Treatment berbentuk spray gel yang diresepkan dokter sebagai bagian dari perawatan serviks pada pasien tertentu.
Berdasarkan materi layanan Filmore, treatment ini ditujukan untuk penggunaan lokal pada area serviks dengan tujuan mendukung kondisi permukaan epitel serviks.
Namun, penggunaannya tidak menggantikan monitoring HPV, Pap Smear, HPV DNA testing, kolposkopi, maupun penanganan lesi prakanker bila terdapat indikasi.
Kesesuaian treatment juga perlu ditentukan melalui konsultasi dengan dokter ObGyn berdasarkan hasil pemeriksaan masing-masing pasien.
Kenapa Monitoring Tetap Penting?
Karena yang menjadi perhatian utama bukan sekadar keberadaan HPV pada satu titik waktu, tetapi apakah infeksi high-risk tersebut menetap dan menyebabkan perubahan pada sel serviks.
WHO menjelaskan bahwa persistent high-risk HPV infection dapat menyebabkan perubahan sel serviks yang kemudian berkembang menjadi precancer. Screening memungkinkan perubahan tersebut ditemukan sebelum berkembang lebih jauh.
Itulah sebabnya setelah hasil HPV positif, dokter dapat meminta kamu melakukan follow-up pada interval tertentu.
Jangan skip kontrol hanya karena tidak ada keluhan atau lesi yang terlihat.
Perubahan prakanker pada serviks sering kali tidak memberikan gejala pada tahap awal.
HPV Positif, Apakah Masih Perlu Vaksin HPV?
Hasil HPV positif tidak otomatis berarti vaksin HPV sudah tidak memiliki manfaat.
Vaksin HPV bersifat preventif, bukan terapi untuk membersihkan infeksi HPV yang sudah ada. Vaksin dapat memberikan perlindungan terhadap tipe HPV yang tercakup dalam vaksin dan belum pernah menginfeksi seseorang.
Karena riwayat vaksinasi, usia, dan kondisi setiap pasien berbeda, kebutuhan vaksinasi setelah hasil HPV positif sebaiknya didiskusikan dengan dokter.
WHO menempatkan HPV vaccination, cervical screening, dan treatment terhadap precancerous lesions sebagai bagian penting dari strategi pencegahan kanker serviks.
HPV Treatment & Prevention di Filmore Medical
Kalau hasil HPV kamu positif, langkah berikutnya bukan panik atau mencoba berbagai treatment sendiri.
Cari tahu dulu kondisi serviksmu.
Di Filmore Medical, tersedia rangkaian layanan untuk HPV screening, prevention, dan cervical health:
Konsultasi ObGyn
Untuk membantu membaca hasil pemeriksaan dan menentukan follow-up berdasarkan kondisi dan riwayatmu.Pap Smear + HPV DNA
Untuk mengevaluasi perubahan sel serviks sekaligus mendeteksi high-risk HPV.HPV Treatment
Perawatan lokal dengan spray gel yang dapat dipertimbangkan dokter pada pasien tertentu sesuai kondisi dan indikasinya.HPV Vaccination
Untuk membantu memberikan perlindungan terhadap tipe HPV yang tercakup dalam vaksin.
Karena HPV positif tidak otomatis berarti kanker, tetapi juga bukan hasil yang sebaiknya diabaikan.
Konsultasikan hasil HPV dan Pap Smear kamu bersama dokter ObGyn di Filmore Medical untuk mengetahui langkah selanjutnya yang sesuai.
Referensi
World Health Organization. Human papillomavirus and cancer. WHO: HPV and Cancer
World Health Organization. Cervical Cancer. WHO: Cervical Cancer
Centers for Disease Control and Prevention. Human Papillomavirus (HPV) Infection – STI Treatment Guidelines. CDC HPV Treatment Guidelines
Centers for Disease Control and Prevention. About Genital HPV Infection. CDC: About Genital HPV
American Society for Colposcopy and Cervical Pathology (ASCCP). Risk-Based Management Consensus Guidelines. ASCCP Management Guidelines