Jenis-Jenis ADHD pada Dewasa yang Sering Terlambat Disadari: Apakah Kamu Salah Satunya?

Saat mendengar kata ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), banyak orang langsung membayangkan anak kecil yang sangat aktif dan sulit diam.

Padahal kenyataannya, ADHD juga dapat dialami oleh orang dewasa, bahkan banyak yang baru menyadarinya di usia 20, 30, hingga 40 tahun.

Yang membuat ADHD dewasa sering terlambat dikenali adalah karena gejalanya sering "tertutup" oleh kemampuan seseorang untuk beradaptasi (masking). Banyak orang mengira dirinya hanya:

  • Pelupa

  • Kurang disiplin

  • Sulit fokus

  • Terlalu overthinking

  • Mudah burnout

  • Sulit mengatur emosi

Padahal, bisa jadi ada kondisi neurodevelopmental yang selama ini belum pernah dievaluasi.

Mengapa ADHD Baru Disadari Saat Dewasa?

ADHD merupakan gangguan perkembangan sistem saraf (neurodevelopmental disorder). Artinya, kondisi ini sudah ada sejak masa kanak-kanak, bukan muncul secara tiba-tiba saat dewasa.

Namun, banyak orang berhasil "menutupi" gejalanya selama bertahun-tahun dengan cara:

  • membuat daftar pekerjaan terus-menerus

  • bekerja jauh lebih keras dibanding orang lain

  • menghindari situasi tertentu

  • mengandalkan deadline untuk bisa mulai bekerja

  • belajar masking agar terlihat "normal"

Ketika tanggung jawab hidup semakin besar, misalnya kuliah, bekerja, menikah, atau menjadi orang tua, strategi tersebut mulai tidak lagi efektif sehingga gejalanya menjadi lebih terasa.

3 Jenis ADHD pada Dewasa

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), ADHD terbagi menjadi tiga tipe utama.

1. ADHD Predominantly Inattentive (Sulit Fokus)

Ini adalah tipe yang paling sering tidak disadari, terutama pada perempuan.

Gejalanya antara lain:

  • mudah terdistraksi

  • sering lupa meletakkan barang

  • sulit menyelesaikan pekerjaan

  • sering melakukan kesalahan kecil

  • sulit mengikuti percakapan panjang

  • merasa "otaknya tidak pernah berhenti"

Karena tidak hiperaktif secara fisik, banyak orang menganggap dirinya hanya pelupa atau ceroboh.

2. ADHD Predominantly Hyperactive-Impulsive

Pada orang dewasa, hiperaktif tidak selalu berarti berlari-lari seperti anak kecil.

Bentuknya bisa berupa:

  • sulit duduk diam

  • selalu ingin melakukan sesuatu

  • berbicara terlalu cepat

  • sering memotong pembicaraan

  • impulsif saat berbelanja

  • sulit menunggu giliran

  • mengambil keputusan tanpa banyak berpikir

Sering kali orang menyebut dirinya "nggak bisa santai", padahal ada kemungkinan berkaitan dengan ADHD.

3. ADHD Combined Type

Ini merupakan kombinasi antara gejala kurang fokus dan hiperaktif-impulsif.

Misalnya:

  • sulit fokus saat bekerja

  • mudah lupa

  • sering menunda pekerjaan

  • impulsif dalam mengambil keputusan

  • emosi mudah meledak

  • sulit mengatur waktu

Tipe ini merupakan salah satu bentuk ADHD yang cukup sering ditemukan pada orang dewasa.


Gejala ADHD Dewasa yang Sering Dianggap "Sifat"

Beberapa tanda berikut sering dianggap bagian dari kepribadian, padahal bisa menjadi indikator ADHD:

  • Selalu terlambat walaupun sudah berusaha tepat waktu.

  • Sulit memulai pekerjaan.

  • Baru bisa bekerja saat deadline sudah dekat.

  • Cepat bosan.

  • Sulit mempertahankan fokus dalam rapat.

  • Mudah kehilangan barang.

  • Terlalu banyak ide tetapi sulit mengeksekusinya.

  • Sulit mengatur prioritas.

  • Overthinking.

  • Mudah burnout.

  • Sulit mengontrol emosi.

  • Merasa selalu kewalahan dengan pekerjaan sehari-hari.

Tentu saja, mengalami satu atau dua gejala tidak berarti seseorang pasti memiliki ADHD. Evaluasi profesional tetap diperlukan untuk memahami penyebabnya.

Apakah ADHD Dewasa Bisa Disertai Kondisi Lain?

Ya.

Tidak sedikit orang dewasa yang memiliki ADHD juga mengalami kondisi lain, seperti:

  • Gangguan kecemasan (Anxiety)

  • Depresi

  • Burnout kronis

  • Gangguan tidur

  • Autism Spectrum Disorder (ASD)

Karena itu, proses evaluasi tidak hanya melihat satu gejala, tetapi memahami gambaran kondisi secara menyeluruh.

Bagaimana Proses Skrining ADHD Dewasa?

Skrining ADHD bukan sekadar mengisi satu kuesioner.

Di TalkMore Clinic, proses skrining dilakukan secara bertahap untuk membantu psikolog memahami apakah pola yang dialami mengarah ke ADHD, Autism Spectrum, atau kondisi psikologis lainnya.

Secara umum, prosesnya meliputi:

1. Wawancara Mendalam

Psikolog akan mengeksplorasi pengalaman sejak masa kanak-kanak hingga kehidupan saat ini, karena ADHD merupakan kondisi yang sudah ada sejak awal perkembangan.

2. Tes Psikologis

Setelah wawancara, biasanya dilakukan beberapa pemeriksaan psikologis, seperti tes kognitif dan kepribadian, untuk melihat berbagai aspek fungsi psikologis, termasuk perhatian, working memory, konsentrasi, dan regulasi emosi.

3. Penyusunan Roadmap Penanganan

Apabila hasil evaluasi mengarah pada ADHD, Autism Spectrum, atau kondisi lain, psikolog akan memberikan rekomendasi langkah selanjutnya, yang dapat berupa terapi psikologis, strategi coping, maupun rujukan ke psikiater bila diperlukan.

Perlu diketahui: Skrining bukan diagnosis akhir. Hasil skrining berfungsi sebagai alat bantu untuk membantu psikolog menentukan arah evaluasi dan penanganan yang paling sesuai.

Kapan Sebaiknya Melakukan Skrining ADHD?

Pertimbangkan untuk melakukan evaluasi apabila:

  • gejala mulai mengganggu pekerjaan atau kuliah

  • hubungan dengan pasangan atau keluarga sering terdampak

  • sulit mengatur kehidupan sehari-hari

  • merasa selalu kewalahan walaupun sudah berusaha maksimal

  • sering bertanya-tanya mengapa diri terasa "berbeda" sejak kecil

Semakin dini kondisi dikenali, semakin cepat pula strategi penanganan dapat disusun.


Skrining ADHD Dewasa di TalkMore Clinic

Jika kamu sering merasa sulit fokus, mudah kewalahan, atau curiga memiliki gejala ADHD yang selama ini belum pernah dievaluasi, tidak ada salahnya melakukan skrining bersama profesional.

Di TalkMore Clinic, skrining ADHD dewasa dilakukan oleh psikolog melalui proses wawancara dan asesmen psikologis yang komprehensif. Tujuannya bukan sekadar memberi label, tetapi membantu memahami pola yang kamu alami dan menyusun rekomendasi penanganan yang tepat sesuai kebutuhanmu.

Karena pada akhirnya, memahami cara kerja otak sendiri sering kali menjadi langkah pertama menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Klik di sini untuk tahu lokasi Filmore Medical terdekat, atau buat janji temu melalui Whatsapp.


FAQ

Apakah ADHD bisa baru muncul saat dewasa?

Tidak. ADHD merupakan kondisi neurodevelopmental yang sudah ada sejak masa kanak-kanak, tetapi gejalanya bisa baru disadari saat dewasa.

Apakah skrining ADHD sama dengan diagnosis?

Tidak. Skrining adalah proses awal untuk membantu psikolog menentukan apakah diperlukan evaluasi lebih lanjut sebelum diagnosis ditegakkan.

Berapa lama proses skrining ADHD dewasa?

Durasinya bervariasi tergantung kompleksitas kondisi masing-masing individu. Pada beberapa orang mungkin membutuhkan beberapa sesi asesmen.

Siapa yang sebaiknya melakukan skrining ADHD?

Orang dewasa yang mengalami kesulitan fokus, organisasi, regulasi emosi, atau merasa gejalanya mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, maupun aktivitas sehari-hari.


References

  1. American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed., text rev.; DSM-5-TR). American Psychiatric Publishing.

  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD). https://www.cdc.gov/adhd/

  3. National Institute of Mental Health. (2024). Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd

  4. National Institute for Health and Care Excellence. (2018, updated 2019). Attention Deficit Hyperactivity Disorder: Diagnosis and Management (NG87). https://www.nice.org.uk/guidance/ng87

  5. World Health Organization. (2023). Autism. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/autism

  6. Faraone, S. V., Asherson, P., Banaschewski, T., et al. (2021). The World Federation of ADHD International Consensus Statement: 208 Evidence-Based Conclusions About the Disorder. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 128, 789-818. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2021.01.022

  7. Young, S., Adamo, N., Ásgeirsdóttir, B. B., et al. (2020). Females with ADHD: An Expert Consensus Statement Taking a Lifespan Approach Providing Guidance for the Identification and Treatment of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder in Girls and Women. BMC Psychiatry, 20(1), 404. https://doi.org/10.1186/s12888-020-02707-9

  8. Barkley, R. A. (2015). Attention-Deficit Hyperactivity Disorder: A Handbook for Diagnosis and Treatment (4th ed.). Guilford Press.

  9. Kessler, R. C., Adler, L., Barkley, R., et al. (2006). The Prevalence and Correlates of Adult ADHD in the United States: Results From the National Comorbidity Survey Replication. American Journal of Psychiatry, 163(4), 716-723. https://doi.org/10.1176/ajp.2006.163.4.716

  10. American Psychological Association. (2023). Understanding Psychological Assessment. https://www.apa.org/topics/psychological-assessment

Next
Next

50% Keberhasilan Kehamilan Ditentukan oleh Pria: Jangan Lupa Cek Kesuburan Sebelum Program Hamil